Sasaka

Independensi Mangku Tak Bisa Ditawar Suara Adat Dari Tebango Kian Menggema

Sasaka.id, Lombok Utara – 30 Maret 2026
Di tengah arus perubahan zaman, masyarakat adat Dusun Tebango, Lombok Utara, kembali menyuarakan komitmen kuat untuk menjaga kemurnian, kesatuan, dan independensi peran mangku sebagai pilar utama dalam kehidupan adat.

Bagi masyarakat Tebango, mangku bukan sekadar simbol atau jabatan, melainkan amanah suci yang mengemban tanggung jawab spiritual dan sosial. Peran ini tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menyentuh ranah niskala dimensi spiritual yang dipercaya menjadi bagian dari keseimbangan alam semesta.

Tokoh-tokoh mangku yang hingga saat ini masih aktif dan diakui antara lain Mangku Ayu Labak Pancer, Jumarto, Mangku Bumi Rudiasip, serta Mangku Sedahan Ibu Kartinah. Mereka dipandang sebagai penjaga nilai, pengayom masyarakat, serta penuntun dalam menjaga harmoni kehidupan adat.

Namun. di balik itu, muncul dinamika yang memantik perhatian masyarakat. Beredar sebuah simbol atau logo yang secara tiba-tiba muncul dan mengatasnamakan masyarakat adat, yang dikenal dengan sebutan “Wet Jiliman Ireng”. Keberadaan simbol ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Sejumlah tokoh adat menduga bahwa kemunculan logo tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berpotensi membawa muatan kepentingan tertentu. Bahkan, muncul kekhawatiran bahwa hal tersebut berkaitan dengan kepentingan politik oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Tokoh adat seperti Nursih Gunar dan Sukarman menyampaikan bahwa masyarakat perlu bersikap bijak dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang belum jelas dasar dan tujuannya.

Independensi mangku tidak bisa ditawar. Kita harus berhati-hati terhadap hal-hal yang muncul tiba-tiba dan mengatasnamakan masyarakat, apalagi jika berpotensi membawa kepentingan tertentu, tegas mereka.

Mereka juga mengingatkan bahwa adat memiliki sistem dan tatanan yang jelas, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan adat semestinya lahir dari kesepakatan bersama, bukan dari pihak-pihak tertentu yang tidak melalui proses adat.

Di sisi lain, harapan masyarakat semakin menguat agar mangku tetap satu, tidak terpecah, serta tetap menjalankan peran secara netral dan independen. Kesatuan ini dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga keharmonisan sosial dan spiritual di tengah masyarakat.

Lebih jauh, masyarakat juga menegaskan bahwa keberadaan mangku merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan penuh dari masyarakat dinilai sangat penting, agar para mangku dapat fokus menjalankan tugasnya tanpa terbebani oleh kepentingan di luar adat.

Peran ini bahkan dianalogikan seperti anggota Sangha dalam ajaran Buddha, yang disokong oleh umat agar dapat sepenuhnya mengabdikan diri pada pelayanan spiritual. Dengan dukungan tersebut, para mangku diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara dunia sekala dan niskala.

Dalam kehidupan masyarakat Tebango, mangku dipercaya berhadapan langsung dengan dimensi spiritual yang tidak kasatmata. Oleh karena itu, dibutuhkan ketulusan, kejernihan hati, serta konsentrasi penuh dalam menjalankan tugasnya sesuatu yang tidak dapat berjalan dengan baik jika tercampur dengan kepentingan tertentu.

Adat Tebango sendiri berdiri di atas nilai-nilai luhur seperti cinta kasih universal, kebijaksanaan, keadilan, dan pengabdian tanpa pamrih. Nilai-nilai inilah yang menjadi benteng utama dalam menjaga keberlangsungan adat di tengah tantangan zaman.

Kini, suara masyarakat Tebango semakin jelas: menjaga adat bukan hanya tugas tokoh adat, tetapi tanggung jawab bersama. Segala bentuk upaya yang berpotensi mengganggu kesatuan dan independensi mangku perlu disikapi dengan kehati-hatian dan kebijaksanaan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Tebango memilih untuk tetap berpegang teguh pada akar nilai yang telah diwariskan. Karena bagi mereka, selama adat dijaga dengan hati yang tulus, maka keharmonisan akan tetap hidup, dan keseimbangan akan terus terjaga. (Endi Tarwadi)

Exit mobile version