Sasaka

Pegiat Seni Bentuk Perhimpunan Pegiat Seni NTB, Dorong Pengawalan PPKD dan Penguatan Ekosistem Kesenian

Sasaka.id Mataram — Sejumlah pegiat seni di Nusa Tenggara Barat mulai mengonsolidasikan diri melalui pembentukan Perhimpunan Pegiat Seni NTB. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (7/10/2026), pukul 11.00–13.45 WITA, tersebut menjadi ruang untuk merumuskan identitas gerakan, menyepakati struktur kepengurusan awal, serta membicarakan langkah bersama dalam merespons persoalan kesenian dan kebudayaan di daerah.

Pembentukan perhimpunan ini berangkat dari kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan komunikasi dan kerja bersama ant pegiat seni, termasuk menindaklanjuti audiensi dengan Kepala Dinas Kebudayaan NTB yang berlangsung pada Jumat sebelumnya. Keterlibatan sejumlah pegiat seni dalam penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) juga menjadi bagian penting dari pembicaraan.

Dalam pertemuan tersebut, penentuan nama gerakan menjadi salah satu pokok diskusi yang berlangsung dinamis. Pilihan menggunakan nama NTB, alih-alih hanya merujuk pada Lombok, membawa konsekuensi untuk memperluas jejaring dan membangun komunikasi dengan pegiat seni di berbagai wilayah, termasuk Sumbawa, Dompu, dan Bima.

Syamsul Fajri Nurawat, pegiat seni dari SFN Lab, memandang pembentukan perhimpunan ini sebagai langkah untuk memperkuat hubungan antarpelaku seni sekaligus membangun ruang kerja bersama yang berkelanjutan.

“Selama ini banyak pegiat seni bekerja di komunitasnya masing-masing. Kerjanya ada, gagasannya ada, tetapi belum selalu terhubung satu sama lain. Karena itu kami merasa perlu membangun ruang bersama. Perhimpunan ini bukan semata-mata soal membentuk organisasi, tetapi bagaimana kita bisa saling menguatkan, membaca persoalan kesenian bersama, dan kemudian melakukan sesuatu secara kolektif.” Ujar Syamsu Fajri Nurawat

Menurut Syamsul, keberadaan perhimpunan diharapkan tidak berhenti pada pembentukan organisasi, tetapi berkembang menjadi wadah yang memungkinkan para pegiat seni menyampaikan gagasan, bertukar pengetahuan, dan merumuskan langkah bersama dalam merespons berbagai persoalan kesenian di NTB.

Sementara itu, Muhammad Sibawaihi, pegiat komunitas seni dari Yayasan Pasir Putih, menyoroti pentingnya kesinambungan kerja kolektif, terutama dalam menghubungkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki komunitas dengan proses perencanaan pembangunan kebudayaan.

“PPKD jangan berhenti sebagai dokumen. Di dalamnya ada banyak pengetahuan dan persoalan yang berasal dari masyarakat dan komunitas. Karena itu, keterlibatan pegiat seni dan komunitas kebudayaan penting bukan hanya dalam proses penyusunan, tetapi juga dalam mengawal apa yang kemudian dilakukan setelah dokumen itu selesai.” Tambah SIbawaihi.

PPKD menjadi salah satu perhatian dalam konsolidasi tersebut. Bagi para pegiat seni, proses penyusunan dokumen kebudayaan perlu diikuti dengan upaya mengawal gagasan, kebutuhan, dan persoalan yang berkembang di kalangan pelaku seni agar tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan semata.

Pertemuan juga membahas rencana tindak lanjut melalui koordinasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi NTB. Perhimpunan berencana mengajukan audiensi pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 14.00 WITA. Surat permohonan audiensi, Kerangka Acuan Kegiatan (KAK), dan dokumen pendukung disiapkan untuk disampaikan kepada dinas. Pokok-pokok pembahasan dalam KAK akan dibagikan kepada anggota untuk mendapatkan masukan sebelum audiensi berlangsung.

Selain agenda audiensi, para peserta turut membicarakan kebutuhan sekretariat sementara dan pembentukan struktur kerja awal. Syamsul Fajri Nurawat disepakati sebagai Ketua Umum, Indra Saputra Lesmana sebagai Wakil Ketua, Yuga Anggana sebagai Sekretaris Umum, dan Gladis Syilvia sebagai Bendahara Umum. Sementara itu, bidang hukum dipercayakan kepada Ahmad Saleh Tabibuddin, bidang riset kepada Muhammad Sibawaihi, dan bidang pengembangan kepada Taufik Mawardi. Bidang arsip dan database masih akan dilengkapi.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Syamsul Fajri Nurawat (Pegiat Seni/SFN Lab), Yuga Anggana (Pegiat sekaligus Akademisi Seni), Ahmad Saleh Tabibuddin (Pegiat Seni/SFN Lab), Indra Saputra Lesmana (Pegiat Seni dan Pegiat Komunitas Teater/Insomnia Teater), serta Muhammad Sibawaihi (Pegiat Komunitas Seni/Yayasan Pasir Putih).

Disepakatinya nama Perhimpunan Pegiat Seni NTB menjadi langkah awal dari proses konsolidasi yang lebih luas. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan kesepakatan tersebut menjadi kerja nyata: memperluas jejaring lintas wilayah, mengembangkan basis pengetahuan tentang persoalan kesenian, dan membangun komunikasi yang berkelanjutan dengan pemangku kebijakan.

Bagi perhimpunan ini, pembentukan wadah bukanlah tujuan akhir. Ia merupakan titik berangkat untuk memastikan bahwa pegiat seni memiliki ruang bersama dalam merumuskan persoalan, menyampaikan kepentingan, dan ikut menentukan arah perkembangan kesenian di Nusa Tenggara Barat.

Exit mobile version